lia suprihartini

May 24, 2008

Siklus Hidup Sistem

Filed under: matakuliah — liaedu @ 9:45 am

SIKLUS HIDUP SISTEM :

Proses evolusioner yang diikuti dalam menerapkan sistem atau subsistem informasi berbasis komputer.

System Development Life Cycle

Tahap – tahap Siklus Hidup :

1. Perencanaan.

2. Analisis.

3. Perancangan.

4. Penerapan / Implementasi.

5. Penggunaan.

EKSEKUTIF ; menetapkan kebijakan dan membuat rencana yang mengatur pemakaian komputer.

KOMITE PENGARAH SIM ; mengelola siklus hidup pengembangan sistem dalam perusahaan.

Fungsi Komite Pengarah SIM :

1. Menetapkan kebijakan yang memastikan dukungan komputer untuk mencapai tujuan strategis perusahaan.

2. Menjadi Pengendali Keuangan; berwenang memberi persetujuan bagi semua permintaan dana yang berhubungan dengan penggunaan komputer.

3. Menyelesaikan pertentangan yang timbul sehubungan dengan prioritas penggunaan komputer.

Ketika tiap siklus hidup melalui tahap pengembangan, para pemimpin proyek mengawasi para anggota tim.

Keuntungan dari melaksanakan proyek CBIS :

1. Menentukan lingkup proyek.

2. Mengenali berbagai area permasalahan.

3. Mengatur urutan tugas.

4. Memberikan dasar untuk pengendalian.

Langkah – langkah dalam Tahap Perencanaan :

1. Menyadari masalah.

2. Mendefinisikan masalah.

3. Menentukan tujuan sistem.

4. Mengidentifikasi kendala – kendala sistem.

5. Membuat studi kelayakan ; tinjauan sekilas pada faktor – faktor utama yang akan mempengaruhi kemampuan sistem untuk mencapai tujuan – tujuan yang diinginkan.

6. Mempersiapkan usulan penelitian sistem.

7. Menyetujui atau menolak penelitian proyek.

8. Menetapkan mekanisme pengendalian.

Langkah – langkah dalam Tahap Analisis:

1. Penelitian sistem.

2. Mengorganisasikan tim proyek.

3. Mendefinisikan kebutuhan informasi.

4. Mendefinisikan kriteria kinerja sistem.

5. Menyiapkan usulan rancangan.

6. Menyetujui / menolak rancangan proyek.

Langkah – langkah dalam Tahap Rancangan :

1. Menyiapkan rancangan sistem yang terinci.

2. Mengidentifikasikan berbagai alternatif konfigurasi sistem.

3. Mengevaluasi berbagai alternatif konfigurasi sistem.

4. Memilih konfigurasi yang terbaik.

5. Menyiapkan usulan penerapan.

6. Menyetujui / menolak penerapan sistem.

Langkah – langkah dalam Tahap Implementasi :

1. Merencanakan penerapan.

2. Mengumumkan penerapan.

3. Mendapatkan sumber daya hardware.

4. Mendapatkan sumber daya software.

5. Menyiapkan database.

6. Menyiapkan fasilitas fisik.

7. Mendidik peserta dan user.

8. Masuk ke sistem baru.

Langkah – langkah dalam Tahapan Penggunaan :

1. Menggunakan sistem.

2. Audit sistem.

3. Memelihara sistem, dilakukan untuk 3 alasan :

q Memperbaiki kesalahan.

q Menjaga kemutakhiran sistem.

q Meningkatkan kinerja sistem.

PROTOTYPING

Memberikan ide bagi designer sistem maupun user potensial tentang cara sistem akan berfungsi dalam bentuk lengkapnya.

Jenis – jenis Prototype :

1. Jenis I , akan menjadi sistem opersional.

Langkah – langkahnya :

q Mengidentifikasi kebutuhan user.

q Mengembangkan prototype.

q Menentukan apakah prototype dapat diterima.

q Menggunakan prototype.

2. Jenis II , langkah – langkahnya :

q Mengadakan sistem operasional.

q Menguji sistem operasional.

q Menentukan jika sistem operasional dapat diterima.

q Menggunakan sistem operasional.

Daya Tarik Prototype :

1. Komunikasi antar analis sistem dan user membaik.

2. Analis sistem dapat bekerja lebih baik dalam menentukan kebutuhan user.

3. User berperan lebih aktif dalam pengembangan sistem.

4. Spesialis informasi dan user dapat menghemat waktu dan usaha dalam mengembangkan sistem.

5. Penerapan menjadi lebih mudah karna user mengetahui apa yang diharapkan.

Manajemen Siklus Hidup Proses Bisnis (Business Process Lifecycle Management)

Proses Bisnis

Dunia bisnis saat ini menuntut setiap perusahaan untuk lebih fleksibel, lebih inovatif, dan lebih profesional. Seperti kita ketahui bersama bahwa setiap bisnis pasti “diatur” dan “dioperasikan” oleh suatu himpunan proses bisnis. Hal inilah yang menyebabkan tingkat kesuksesan suatu bisnis akan sangat dipengaruhi dari seberapa baiknya manajemen siklus hidup (lifecycle) dari proses-proses yang ada di perusahaan tersebut. Perusahaan yang mampu menciptakan, mengontrol, merubah, dan memperbaiki setiap proses bisnisnya dengan mudah dan fleksibel akan mempunyai kemampuan untuk tetap berada di barisan terdepan dalam persaingan.

Saat ini tentunya cukup banyak perusahaan yang dalam pengoperasian proses bisnis sehari-harinya masih dilakukan secara manual tanpa otomasi sama sekali. Sementara sebagian lainnya telah terotomasi secara parsial, dimana bagian IT masih memiliki kendali penuh terhadap proses-proses yang diotomasi tersebut. Dengan kondisi seperti ini tentunya sangat tidak menguntungkan bagi keberadaan perusahaan dalam menghadapi persaingan yang semakin ketat seperti sekarang ini.

Dengan sistem Business Process Management (BPM) maka diharapkan akan menjawab masalah-masalah di atas. Dengan sistem BPM, maka otomasi suatu proses bisnis akan dapat dilakukan secara cepat. Selain itu, kendali terhadap proses yang terotomasi yang selama ini masih dipegang oleh bagian IT, akan menjadi milik dari pihak manajemen sepenuhnya, pihak yang memang lebih tepat untuk hal tersebut. Sebuah solusi sistem BPM yang lengkap akan men-support seluruh fase dari Process Lifecycle yaitu mulai dari Definisi Proses, Eksekusi & Kontrol Proses, hingga Monitoring dan Perbaikan Proses. Process Lifecycle ini berbentuk suatu loop tertutup dimana setelah fase terakhir, proses akan selalu dapat berulang ke fase pertama kembali. Dukungan terhadap full process lifecycle seperti ini tentunya akan sangat membantu perusahaan dalam usaha dalam peningkatan kualitas proses bisnisnya yang berkesinambungan.

Business Process Lifecyle terdiri dari langkah-langkah sebagai berikut:

  1. Definisi Proses
    Pada fase ini pemilik proses akan merancang, menganalisa dan mendefinisikan proses bisnis yang akan diotomasi yang dimulai dari alur aktifitas, alur informasi, aturan dan kebijakan bisnis, sumber daya yang dibutuhkan, hingga perhitungan performansinya (Key Performance Indicators / KPI) seperti lamanya waktu proses, biaya seluruh aktifitas, dsb. Pada beberapa software solusi BPM, tahap ini dapat dilakukan dengan cara memodelkan dan menggambarkan prosesnya secara grafis visual, seperti layaknya Microsoft Visio.Setelah dimodelkan, kita bahkan dapat melakukan simulasi jalannya proses untuk mengidentifikasi critical path dan bottleneck yang mungkin terjadi. Pada simulasi tersebut, kita juga dapat mendefinisikan semacam Service Level Agreements (SLA) untuk menguji performansi rancangan proses tersebut. Diharapkan dengan adanya software untuk simulasi rancangan proses, pemilik proses dapat memperoleh masukan sebelum proses benar-benar diimplementasi dengan membuat proses yang benar-benar optimal dan memiliki performansi yang cukup tinggi.

  2. Eksekusi & Kontrol Proses
    Hasil dari pemodelan dan perancangan proses yang dilakukan oleh manajer proses kemudian dioper ke bagian IT untuk dilakukan otomasi. Setelah dilakukan implementasi, maka pada fase inilah karyawan dan pihak-pihak terkait akan menjalankan proses sesuai dengan aturan yang telah didefinisikan sebelumnya, dan supervisor dan manajer proses bertugas untuk mengontrol jalannya proses tersebut. Tindakan perbaikan diperlukan pada fase ini ketika terjadi hal-hal yang tidak sesuai dengan ketentuan yang telah ditetapkan, seperti adanya keterlambatan waktu proses, terjadinya exception, sumber daya tidak tersedia, dan sebagainya.
  3. Monitoring & Perbaikan Proses
    Proses bisnis yang telah diimplementasi dimonitor terus performansinya melalui perhitungan Key Performance Indicators (KPI) dan ukuran-ukuran lain yang telah ditentukan sebelumnya. Monitoring dilakukan dengan menggunakan data-data dalam bentuk real-time, sehingga akan sesuai dengan keadaan riil di lapangan. Dari hasil monitoring tersebut maka pihak manajemen dapat melihat dan menganalisa apakah perlu diadakan perbaikan terhadap suatu proses bisnis atau tidak.

Kesimpulan

Manajemen siklus hidup (lifecycle) dari proses bisnis sangat berpengaruh terhadap tingkat fleksibilitas dari suatu perusahaan yang sangat dibutuhkan di dunia bisnis seperti sekarang ini. Dengan dukungan dari Sistem BPM (Business Process Management) yang men-support full process lifecycle dan bersifat loop tertutup maka pembangunan suatu sistem proses bisnis yang efektif dan efisien, yang memiliki daya respon yang cukup cepat terharap perubahan kondisi bisnis akan dapat terwujud.

Download artikel ini dalam format PDF.


Jika perusahaan Anda membutuhkan solusi Manajemen Siklus Proses Bisnis (Business Process Lifecycle Management), Anda dapat menghubungi Saltanera untuk melihat demo dari Saltanera DynamicFlow™. DynamicFlow adalah sebuah sistem software yang dapat membantu pengelolaan proses bisnis pada perusahaan Anda.

Kelemahan Prototype :

1. Ketergesaan untuk menghasilakan prototype mungkin menghasilkan jalan pintas dalam mendefinisikan masalah, evaluasi alternatif dan dokumentasi.

2. User begitu tertarik dengan prototype sehingga mereka mengharapkan sesuatu yang tidak realistis.

3. Prototype jenis I mungkin tidak se-efisien sistem yang dikodekan dalam bahasa pemrograman.

4. Hubungan komputer dengan manusia yang disediakan oleh peralatan prototype tertentu mungkin tidak mencerminkan teknik perancangan sistem yang baik.

RAPID APPLICATON DEVELOPMENT

Memberikan respon yang cepat pada kebutuhan user, tetapi dengn lingkup yang lebih luas.

Unsur – unsur R.A.D :

1. Manajemen.

2. Manusia.

3. Metodologi.

4. Peralatan.

COMPUTER AIDED SOFTWARE ENGINEERING ( C A S E )

Merupakan kategori perangkat lunak yang bertujuan mengalihkan sebagian beban kerja pengembangan sistem dari manusia ke komputer.

4 Kategori peralan C A S E :

1. Peralatan CASE tingkat atas; dapat dibuat oleh eksekutif perusahaan saat mereka membuat perencanaan strategis.

2. Peralatan CASE tingkat menengah; dapat digunakan selama tahap analisis dan perancangan untuk mendokumentasikan proses dan data dari sistem yang telah ada maupun sistem yang baru.

3. Peralatan CASE tingkat bawah; digunakan selama tahap implementasi dan penggunaan untuk membantu programmer.

4. Peralatan CASE terintegrasi; menawarkan cakupan kombinasi dari peralatan CASE tingkat atas, menengah dan bawah.

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: